pengolahan tanaman terpadu

PTT itu adalah akronim dari Pengelolaan Tanaman Terpadu. Cara baru bercocok tanam padiyang memanfaatkan secara terpadu sumberdaya yang tersedia.

Hasil pengkajian di beberapa tempat memperlihatkan dengan PTT ini maka produktifitasnya meningkat sebesar 19,3 % – 24,5 %, (sekitar 1-2 ton lebih tinggi) sehingga petani dapat memperoleh keuntungan sebesar 35-50 % dibanding cara yang tersedia. PTT inipun telah mampu “berkontribursi secara nyata” produksi padi secara nasional.

Cara bertanam legowo ini biasa dilakukan pada pendekatan yang disebut dengan Pengelolaan Tanaman Terpadu atau lebih populer dengan PTT Padi. Untuk menerapkan pendekatan PTT padi ada beberapa teknologi yang harus dilaksanakan yaitu : (1) penggunaan benih varietas unggul/bermutu, (2) pengaturan jarak tanam. (3) penggunaan benih muda, (4) penggunaan bahan organik, (5) pemupukan sesuai dengan kebutuhan, (6) pengendalian OPT sesuai konsep PHT, (7) pengelolaan air sesuai kondisi lapangan. Secara rinci di jelaskan sbb:

1.      Penggunaan benih varietas unggul bermutu

Varietas unggul yang dianjurkan adalah Ciherang, Mekongga, Conde, Cigeulis, Widas, Cimelati, Gilirang, Angke, Tukad Balian, Tukad petani. Bisa juga digunakan padi hibrida longping, Pusaka dan intani I. Atau varietas unggul setempat. Kemurnian dan daya tumbuh benih tersebut harus diatas 90%. Harus dipilih benih bersertifikat sekurang-kurangnya berlabel biru. Benih ini perlu diseleksi dengan perendaman dalam larutan air garam kurang lebih 3 %, hanya benih yang tenggelam yang dipergunakan.

2.      Penggunaan jarak tanam legowo

  1. Jajar legowo 2:1. Setiap dua baris diselingi satu barisan kosong dengan lebar dua kali jarak dalam barisan. Namun jarak tanam dalam barisan yang memanjang dipersempit menjadi setengah jarak tanam dalam barisan. Jarak tanaman 40x20x10 cm,
  2. Jajar legowo 3:1. Setiap tiga baris tanaman padi diselingi satu barisan kosong dengan lebar dua kali jarak dalam barisan. Jarak tanam tanaman padi yang dipinggir dirapatkan dua kali dengan jarak tanam yang ditengah.jarak tanaman 20x20cm
  3. Jajar legowo 4:1. Setiap tiga baris tanaman padi diselingi satu barisan kosong dengan lebar dua kali jarak dalam barisan. Demikian seterusnya. Jarak tanam yang dipinggir setengah dari jarak tanam yang ditengah. Jarak tanaman 29x10x40 cm

3.      Penggunaan bibit muda tunggal dan dangkal

Umur bibit di persemaian cukup 10-20 hari setelah sebar/HSS (sudah mempunyai 4 daun). Penanaman cukup 1-2 bibit perumpun dan ditanam lebih dangkal. Secara ini akan memberikan pertumbuhan dan perkembangan akar yang lebih baik, anakan lebih banyak dan tanaman lebih mampu beradaptasi dibandingkan dengan tanaman yang berasal bibit yang lebih tua. Cara ini akan menghemat penggunaan benih hingga 50%.

4.      Penggunaan bahan organik

Penggunaan bahan organik bertujuan untuk memperbaiki sifat fisika, kimia dan biologi tanah. Gunakan bahan organik atau pupuk kandang sebanyak 2-3 ton/ha, seperti kompos, jerami, pupuk kandang/kotoran sapi atau ayam, pupuk hijau dan pupuk organik lainnya.

5.      Pemupukan

Pupuk dasar N,P dan K. Pemupukan pertama dilakukan sebelum tanaman berumur 14 hari. Cobalah tanyakan kepada penyuluh pertanian dosis pemupukan yang direkomendasikan setempat. Kalau tidak ada, perhatikan rekomendasi masing-masing produsen atau yang tertera dalam kemasan pupuk ybs. Sebenarnya untuk memudahkan petani dan lebih praktis telah dikembangkan metode baru untuk mengukur tingkat kehijauan daun padi yang dinamakan Bagan Warna Daun (BWD).

Petani tinggal mencocokan warna daun padi dengan warna pada BWD dan memberikan urea sesuai rumus pada BWD tersebut. Dengan menggunakan teknologi ini, pemberian pupuk N dapat dihemat sampai 20%. Tetapi mungkin alat ini belum tersebar luas di kalangan petani.

6.      Pengendalian hama dan penyakit

Pengendalian hama penyakit supaya sesuai dengan prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Misalnya tanam serempak, pemantauan perkembangan populasi organisme pengganggu tanaman, melakukan pengamatan hama secara periodik. Kalau sudah melampaui ambang kendali baru diadakan pengendalian dengan pestisida. Perhatiakn pula pengendalian gulma. Minimal 3 kali.

7.      Pengairan berselang

Sekarang ini sedang disosialisasikan apa yang dinamakan dengan pengairan berselang (intermitten) untuk memberi kesempatan tanah kering beberapa saat. Sebab pengenagan terus-menerus menyebabkan penumpukan bahan beracun di lapisan perakaran. Sampai menjelang pemberian pupuk dasar (7-9 HST, hari setelah tanam) di airi selama 5 cm, kemudian biarkan mengering dengsn sendirinya (selama 5-6 hari, pengairan berselang). Setelah permukaan retak, langsung sawah di airi kembali sedalam 5cm. Ulangi seperti ini sampai tanaman masuk stadia berbunga. Mulai stadia berbunga, airi tanaman terus-menerus setinggi 5 cm. Keringkan air sekitar 2 minggu menjelang panen. Cara ini dapat menghemat penggunaan air irigasi sekitar 40 % dibanding penggenangan terus-terusan.

Cara pengelolaan PTT lebih efektif menggunakan sekolah lapang. Artinya petani berkelompok dan mengamati secara bersama. Sehingga antar petani dapat saling belajar, maka diharapkan produktifitasnyapun optimal. Untuk mempercepat penyebarluasan informasi ini, maka pemerintah menyelenggarakan jambore. Pada jambore ini para petani dapat mengadakan dialog dengan para pejabat penentu kebijakan, para pejabat pembimbing/penyuluh, para peneliti dan sesama petani sendiri selama berjambore.       (sumber : Sinar Tani)

BUDIDAYA PADI METODA SRI

PERTANIAN PADI SAWAH RAMAH LINGKUNGAN BERKELANJUTAN

FOKUS PADA UNSUR ‘TANAMAN, TANAH, AIR DAN UDARA’ HANYA ADA PADA

PERTANIAN PADI SAWAH SRI ORGANIK.

SRI ( System of Rice Intensification ) adalah cara budidaya padi yang pada awalnya diteliti dan dikembangkan sejak 20 tahun yang lalu di Pulau Madagaskar dimana kondisi dan keadaannya tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Ditemukan secara tidak sengaja d Madagaskar antara tahun 1983- 1984 oleh Biarawan Yesuit asal Prancis , bernama Fr Henri De Laulani SJ. Oleh Penemunya Methode ini selanjutnya dalam bahasa Perancis dinamakan Le Systme de Riziculture Intensive disingkat SRI. Karena kondisi lahan pertanian yang terus menurun kesuburannya, kelangkaan dan harga pupuk kimia yang terus melambung serta suplai air yang terus berkurang dari waktu ke waktu, maka dikembangkanlah metoda SRI untuk meningkatkan hasil produksi padi petani Madagaskar pada saat itu, dengan hasil yang sangat mengagumkan. Saat ini SRI telah berkembang di banyak negara penghasil beras seperti di Thailand, Philipina, India, China, Kamboja, Laos, Srilanka, Peru, Cuba, Brazil, Vietnam dan banyak negara maju lainnya. Melalui presentasinya Prof. Norman Uphoff dari universitas Cornell, USA, pada tahun 1997 di Bogor, SRI diperkenalkan di Indonesia. Dan sejak tahun 2003 penerapan dilapangan oleh para petanikita di Sukabumi, Garut, Sumedang, Tasikmalaya dan daerah lainnya memberikan lonjakan hasil panen yang luar biasa.

Cara budidaya SRI sebenarnya tidak asing bagi para petani kita, karena sebagian besar prosesnya sudah dipahami dan biasa dilakukan petani. Metoda SRI ini dinamakan bersawah organik dan menghasilkan padi/beras organik karena mulai dari pengolahan lahan, pemupukan hingga penanggulangan serangan hama sama-sekali tidak menggunakan bahan-bahan kimia . Metoda SRI seluruhnya menggunakan bahan organik disekitar kita ( petani ) yang ramah lingkungan, dan bersahabat dengan alam serta mahluk hidup di lingkungan persawahan.

 

 

Komponen teknologi dasar yang wajib diaplikasikan dalam PTT Padi Sawah, antara lain :

1.  Varietas unggul baru (Hibrida atau Inbrida).

2.  Benih bermutu dan berlabel.

3.  Pemberian bahan organik melalui pengembalian jerami ke sawah atau dalam bentuk kompos atau pupuk kandang.

4.  Pengaturan populasi tanaman secara optimum.

5.  Pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman dan status hara tanah.

6.  Pengendalian OPT (organisme pengganggu tanaman) dengan pendekatan PHT (pengendalian hama terpadu).

Sedangkan komponen teknologi pilihan yang dapat diapilkasikan dalam PTT Padi Sawah, antara lain :

1.  Pengolahan tanah sesuai musim dan pola tanam.

2.  Penggunaan bibit muda (< 21 hari).

3.  Tanam bibit 1 -3 batang per rumpun.

4.  Pengairan secara effektif dan effisien.

5.  Penyiangan dengan alat (landak, gasrok, dll).

6.  Panen tepat waktu dan gabah segera dirontok

Bagan warna daun (BWD) adalah alat berbentuk persegi empat yang berguna untuk mengetahui kadar hara N tanaman padi. Pada alat ini terdapat empat kotak skala warna, mulai dari hijau muda hingga hijau tua, yang menggambarkan tingkat kehijauan daun tanaman padi. Sebagai contoh, kalau daun tanaman berwarna hijau muda berarti tanaman kekurangan hara N sehingga perlu dipupuk. Sebaliknya, jika daun tanaman berwarna hijau tua atau tingkat kehijauan daun sama dengan warna di kotak skala 4 pada BWD berarti tanaman sudah memiliki hara N yang cukup sehingga tidak perlu lagi dipupuk.

Hasil penelitian menunjukkan, pemakaian BWD dalam kegiatan pemupukan N dapat menghemat penggunaan pupuk urea sebanyak 15 – 20% dari takaran yang umum digunakan petani tanpa menurunkan hasil.  Maka sebaiknya setiap petani harus memiliki bagan warna daun tersebut.

Langsung aja pada pokok pembicaraan bagaimana cara menggunakan BWD:

  1. Sebelum berumur 14 hari setelah tanam pindah (HST), tanaman padi diberi pupuk dasar N dengan takaran 50-75 kg per hektar. Pada saat itu BWD belum diperlukan.
  2. Pengukuran tingkat kehijauan daun padi dengan BWD dimulai pada saat tanaman berumur 25-28 HST. Pengukuran dilanjutkan setiap 7-10 hari sekali, sampai tanaman dalam kondisi bunting atau fase primordia. Cara ini berlaku bagi varietas unggul biasa. Khusus untuk padi hibrida dan padi tipe baru, pengukuran tingkat kehijauan daun tanaman dilakukan sampai tanaman sudah berbunga 10%.
  3. Pilih secara acak 10 rumpun tanaman sehat pada hamparan yang seragam, lalu pilih daun teratas yang telah membuka penuh pada satu rumpun.
  4. Taruh bagian tengah daun di atas BWD, lalu bandingkan warna daun tersebut dengan skala warna pada BWD. Jika warna daun berada di antara dua skala warna di BWD, maka gunakan nilai rata-rata dari kedua skala tersebut, misalnya 3,5 untuk nilai warna daun yang terletak di antara skala 3 dengan skala 4 BWD.
  5. Pada saat mengukur daun tanaman dengan BWD, petugas tidak boleh menghadap sinar matahari, karena mempengaruhi nilai pengukuran.
  6. Bila memungkinkan, setiap pengukuran dilakukan pada waktu dan oleh orang yang sama, supaya nilai pengukuran lebih akurat.
  7. Jika lebih 5 dari 10 daun yang diamati warnanya dalam batas kritis atau dengan nilai rata-rata kurang dari 4,0 maka tanaman perlu diberi pupuk N dengan takaran:
    • 50-70 kg urea per hektar pada musim hasil rendah (di tempat-tempat tertentu seperti Subang Jawa Barat, musim hasil rendah adalah musim kemarau).
    • 75-100 kg urea per hektar pada musim hasil tinggi (di tempat-tempat tertentu seperti Kuningan Jawa Barat dan Sragen Jawa Tengah, musin hasil tinggi adalah musim kemarau).
    • 100 kg urea per hektar pada padi hibrida dan padi tipe baru, baik pada musim hasil rendah maupun musim hasil tinggi.

Ada yang perlu diingat, setelah tanaman padi berumur lebih dari 50 hst sebaiknya hentikan pemakaian urea kecuali pada tanaman padi hibrida.

Mudah bukan dalam penggunaan bagan warna daun? Kalau sudah paham sebaiknya mulai sekarang sebelum melakukan pemupukan jangan lupa gunakan dulu bagan warna daun (BWD) untuk menghemat biaya pemupukan, mengurangi pencemaran lingkungan dan mengurangi serangan hama penyakit.

 

Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s