KARET (Havea brasiliensis) Budi Daya Dan Penanamannya

I.PENDAHULUAN

 

A.Latar Belakang

Karet merupakan salah satu komoditi perkebunan penting, baik sebagai sumber pendapatan, kesempatan kerja dan devisa, pendorong pertumbuhan ekonomi sentra-sentra baru di wilayah sekitar perkebunan karet maupun pelestarian lingkungan dan sumberdaya hayati. Namun sebagai negara dengan luas areal terbesar dan produksi kedua terbesar dunia, Indonesia masih menghadapi beberapa kendala, yaitu rendahnya produktivitas, terutama karet rakyat yang merupakan mayoritas (91%) areal karet nasional dan ragam produk olahan yang masih terbatas, yang didominasi oleh karet remah (crumb rubber). Rendahnya produktivitas kebun karet rakyat disebabkan oleh banyaknya areal tua, rusak dan tidak produktif, penggunaan bibit bukan klon unggul serta kondisi kebun yang menyerupai hutan. Oleh karena itu perlu upaya percepatan peremajaan karet rakyat dan pengembangan industri hilir.

Kondisi agribisnis karet saat ini menunjukkan bahwa karet dikelola oleh rakyat, perkebunan negara dan perkebunan swasta. Pertumbuhan karet rakyat masih positif walaupun lambat yaitu 1,58%/tahun, sedangkan areal perkebunan negara dan swasta samasama menurun 0,15%/th. Oleh karena itu, tumpuan pengembangan karet akan lebih banyak pada perkebunan rakyat. Namun luas areal kebun rakyat yang tua, rusak dan tidak produktif mencapai sekitar 400 ribu hektar yang memerlukan peremajaan. Persoalannya adalah bahwa belum ada sumber dana yang tersedia untuk peremajaan. Di tingkat hilir, jumlah pabrik pengolahan karet sudah cukup, namun selama lima tahun mendatang diperkirakan akan diperlukan investasi baru dalam industri pengolahan, baik untuk menghasilkan crumb rubber maupun produk-produk karet lainnya karena produksi bahan baku karet akan meningkat. Kayu karet sebenarnya mempunyai potensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan furniture tetapi belum optimal, sehingga diperlukan upaya pemanfaatan lebih lanjut.

Tujuan pengembangan karet ke depan adalah mempercepat peremajaan karet rakyat dengan menggunakan klon unggul, mengembangkan industri hilir untuk meningkatkan nilai tambah, dan meningkatkan pendapatan petani. Sasaran jangka panjang (2025) adalah: (a) Produksi karet mencapai 3,5-4 juta ton yang 25% di antaranya untuk industri dalam negeri; (b) Produktivitas meningkat menjadi 1.200-1.500 kg/ha/th dan hasil kayu minimal 300 3 m /ha/siklus; (c) Penggunaan klon unggul (85%); (d) Pendapatan petani menjadi US$ 2.000/KK/th dengan tingkat harga 80% dari harga FOB; dan (e) Berkembangnya industri hilir berbasis karet.

Sasaran jangka menengah (2005-2009) adalah: (a) Produksi karet mencapai 2,3 juta ton yang 10% di antaranya untuk industri dalam negeri; (b) Produktivitas meningkat menjadi 800 kg/ha/th dan hasil kayu minimal 3 300 m /ha/siklus; (c) Penggunaan klon unggul (55%); (d) Pendapatan petani menjadi US$ 1.500/KK/th dengan tingkat harga 75% dari harga FOB; dan (e) Berkembangnya industri hilir berbasis karet di sentrasentra produksi karet.

B. Syarat pertumbuhan

1. Suhu udara 240C – 280C

2. Curah hujan 1.500-2.000 mm/tahun.

3. Penyinaran matahari antara 5-7 jam/hari

4. Kelembaban tinggi

5. Kondisi tanah subur, dapat meneruskan air dan tidak berpadas

6. Tanah ber-pH 5-6 (batas toleransi 3-8).

7. Ketinggian lahan 200 m dpl

C. Persiapan lahan penanaman

dalam mempersiapkan lahan pertanaman karet juga diperlukan pelaksanaan berbagai kegiatan yang secara sistematis dapat menjamin kualitas lahan yang sesuai dengan persyaratan. Beberapa diantara langkah tersebut antara lain :

1 Pemberantasan Alang-alang dan Gulma lainnya

Pada lahan yang telah selesai tebas tebang dan lahan lain yang mempunyai vegetasi alang-alang, dilakukan pemberantasan alang-alang dengan menggunakan bahan kimia antara lain Round up, Scoup, Dowpon atau Dalapon. Kegiatan ini kemudian diikuti dengan pemberantasan gulma lainnya, baik secara kimia maupun secara mekanis.

2 Pengolahan Tanah

Dengan tujuan efisiensi biaya, pengolahan lahan untuk pertanaman karet dapat dilaksanakan dengan sistem minimum tillage, yakni dengan membuat larikan antara barisan satu meter dengan cara mencangkul selebar 20 cm. Namun demikian pengolahan tanah secara mekanis untuk lahan tertentu dapat dipertimbangkan dengan tetap menjaga kelestarian dan kesuburan tanah.

3 Pembuatan teras/Petakan dan Benteng/Piket

Pada areal lahan yang memiliki kemiringan lebih dari 50 diperlukan pembuatan teras/petakan dengan sistem kontur dan kemiringan ke dalam sekitar 150. Hal ini dimaksudkan untuk menghambat kemungkinan terjadi erosi oleh air hujan. Lebar teras berkisar antara 1,25 sampai 1,50 cm, tergantung pada derajat kemiringan lahan.

4 Pembuatan Lubang Tanam

Ukuran lubang untuk tanaman dibuat 60 cm x 60 cm bagian atas , dan 40 cm x 40 cm bagian dasar dengan kedalaman 60 cm. Pada waktu melubang, tanah bagian atas (top soil) diletakkan di sebelah kiri dan tanah bagian bawah (sub soil) diletakkan di sebelah kanan. Lubang tanaman dibiarkan selama 1 bulan sebelum bibit karet ditanam.

D. Seleksi dan Penanaman Bibit

1 Seleksi bibit

Sebelum bibit ditanam, terlebih dahulu dilakukan seleksi bibit untuk memperoleh bahan tanam yang memeliki sifat-sifat umum yang baik antara lain : berproduksi tinggi, responsif terhadap stimulasi hasil, resitensi terhadap serangan hama dan penyakit daun dan kulit, serta pemulihan luka kulit yang baik. Beberapa syarat yang harus dipenuhi bibit siap tanam adalah antara lain :

– Bibit karet di polybag yang sudah berpayung dua.

– Mata okulasi benar-benar baik dan telah mulai bertunas

– Akar tunggang tumbuh baik dan mempunyai akar lateral

– Bebas dari penyakit jamur akar (Jamur Akar Putih).

2 Kebutuhan bibit

 

Dengan jarak tanam 7 m x 3 m (untuk tanah landai), diperlukan bibit tanaman karet untuk penanaman sebanyak 476 bibit, dan cadangan untuk penyulaman sebanyak 47 (10%) sehingga untuk setiap hektar kebun diperlukan sebanyak 523 batang bibit karet.

3 Penanaman

Pada umumnya penanaman karet di lapangan dilaksanakan pada musim penghujan yakni antara bulan September sampai Desember dimana curah hujan sudah cukup banyak, dan hari hujan telah lebih dari 100 hari. Pada saat penanaman, tanah penutup lubang dipergunakan top soil yang telah dicampur dengan pupuk RP 100 gram per lubang, disamping pemupukan dengan urea 50 gram dan SP – 36 sebesar 100 gram sebagai pupuk dasar.

D.Pemeliharaan Tanaman

Pemeliharaan yang umum dilakukan pada perkebunan tanaman karet meliputi pengendalian gulma, pemupukan dan pemberantasan penyakit tanaman.

 

1Pengendalian gulma

Areal pertanaman karet, baik tanaman belum menghasilkan (TBM) maupun tanaman sudah menghasilkan (TM) harus bebas dari gulma seperti alang-alang, Mekania, Eupatorium, dll sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik.

2.Program pemupukan

Selain pupuk dasar yang telah diberikan pada saat penanaman, program pemupukan secara berkelanjutan pada tanaman karet harus dilakukan dengan dosis yang seimbang dua kali pemberian dalam setahun. Jadwal pemupukan pada semeseter I yakni pada Januari/Februari dan pada semester II yaitu Juli/Agustus. Seminggu sebelum pemupukan, gawangan lebih dahulu digaru dan piringan tanaman dibersihkan. Pemberian SP-36 biasanya dilakukan dua minggu lebih dahulu dari Urea dan KCl.

3.Pemberantasan Penyakit Tanaman

Penyakit karet sering menimbulkan kerugian ekonomis di perkebunan karet. Kerugian yang ditimbulkannya tidak hanya berupa kehilangan hasil akibat kerusakan tanaman, tetapi juga biaya yang dikeluarkan dalam upaya pengendaliannya. Oleh karena itu langkah-langkah pengendalian secara terpadu dan efisien guna memperkecil kerugian akibat penyakit tersebut perlu dilakukan. Lebih 25 jenis penyakit menimbulkan kerusakan di perkebunan karet. Penyakit tersebut dapat digolongkan berdasarkan nilai kerugian ekonomis yang ditimbulkannya

Iklan
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

budidaya kelapa sawit

Peningkatan Produksi & Kualitas cpo PDF Print E-mail

       Kelapa sawit merupakan komoditi yang memiliki potensi yang sangat besar dalam menyumbangkan devisa bagi negara dari sektor non migas. Indonesia sebagai produsen minyak sawit melihat hal tersebut sebagai pemacu untuk meningkatkan produksi, melalui perluasan lahan penanaman kelapa sawit (ekstensifikasi) dan meningkatkan teknologi pertanian yang berkualitas (intensifikasi).

Budidaya Kelapa Sawit

Daerah pengembangan tanaman kelapa sawit yang sesuai berada pada 15 °LU-15 °LS. Ketinggian pertanaman kelapa sawit yang ideal berkisar antara 0-500 m dpl. Kelapa sawit menghendaki curah hujan sebesar 2.000-2.500 mm/tahun. Suhu optimum untuk pertumbuhan kelapa sawit adalah 29-30 °C. Intensitas penyinaran matahari sekitar 5-7 jam/hari. Kelembaban optimum yang ideal sekitar 80-90 %. Kelapa sawit dapat tumbuh pada jenis tanah Podzolik, Latosol, Hidromorfik Kelabu, Alluvial atau Regosol. Nilai pH yang optimum adalah 5,0–5,5. Kelapa sawit menghendaki tanah yang gembur, subur, datar, berdrainase baik dan memiliki lapisan solum yang dalam tanpa lapisan padas.
Perbanyakan kelapa sawit dilakukan dengan cara generatif dan saat ini sudah dilakukan kultur jaringan untuk memperbanyak kelapa sawit. Pada pembiakan dengan kultur jaringan digunakan bahan pembiakan berupa sel akar (metode Inggris) dan sel daun (metode Perancis). Metode ini mampu memperbanyak bibit tanaman secara besar-besaran dengan tingkat produksi tinggi dan pertumbuhan tanaman seragam.
.
Benih untuk bibit kelapa sawit disediakan oleh Marihat Research Station dan Balai Penelitian Perkebunan Medan. Benih dengan kualitas sangat baik ini berasal dari induk Delidura dan bapak Pisifera.

Cara melakukan perbanyakan tanaman kelapa sawit sebagai berikut :
a) Tangkai tandan buah dilepaskan dari spikeletnya.
b) Tandan buah diperam selama tiga hari dan sekali-kali disiram air. Pisahkan buah dari tandannya dan peram lagi selama 3 hari.
c) Masukkan buah ke mesin pengaduk untuk memisahkan daging buah dari biji. Cuci biji dengan air dan masukkan ke dalam larutan Biotama 5 ( 3 tutup botol Biotama dalam 1 liter air) selama 3 menit. Keringanginkan dan seleksi untuk memberoleh biji yang berukuran seragam.
d) Semua benih disimpan di dalam ruangan bersuhu 22 °C dan kelembaban 60-70% sebelum dikecambahkan.
Sedangkan benih yang siap dikecambahkan, lalu diperlakukan sebagai berikut:
a) Rendam biji dalam air selama 6-7 hari dan ganti air tiap hari, lalu rendam dalam larutan Biotama 5 selama 2 menit. Biji dikeringanginkan.
b) Masukkan biji ke dalam kaleng pengecambahan dan tempatkan dalam ruangan dengan temperatur 39 °C dan kelembaban 60-70% selama 60 hari. Setiap 7 hari benih dikeringanginkan selama 3 menit.
c) Setelah 60 hari rendam benih dalam air sampai kadar air 20-30% dan kering anginkan lagi. Masukkan biji ke larutan Biotama 5 selama 1-2 menit. Simpan benih di ruangan 27 °C. Setelah 10 hari benih berkecambah. Biji yang berkecambah pada hari ke 30 tidak digunakan lagi.

Penanaman sawit.
Tiap lubang tanaman beri pupuk organik dari kotoran ternak/pupuk kandang yang difermentasi dengan Biotama 3. Pada saat penanaman 20 kg/lubang tanaman. Dan selalu diulang setiap tahun. Disamping itu semprotkan larutan Biotama 1 & Biotama 5 pada tanaman di pagi hari sebelum matahari terbit kalau di Indonesia sebelum jam 7 pagi atau sore hari kalau di Indonesia sekitar setelah jam 4 sore (saat matahari belum terbit ataupun matahari sudah terbenam) , waktu penyiraman setiap 2 minggu sekali secara rutin sampai tanaman berbunga. Pada saat tanaman berumur 2 minggu sd 1 tahun disemprot 5 – 6 tangki @ 15 liter larutan Biotama **) tiap Hektar. Umur 2 sd 3 tahun setelah tanam disemprot 8 – 9 tangki untuk tiap hektar tanaman.

Pengembangan Kelapa Sawit
Perluasan areal lahan telah dimulai sejak beberapa tahun ini. Indonesia telah memperluas lahan penanaman kelapa sawit sampai ke Indonesia bagian Timur, seperti Kalimantan dan Sulawesi (sebelumnya hanya pulau Sumatra). Perluasan lahan tersebut mempunyai dampak pada teknologi pertanian, karena lahan baru yang ditanami kelapa sawit tersebut mempunyai sifat dan struktur tanah yang berbeda dari keadaan lahan sebelumnya. Oleh sebab itu, dibutuhkan peningkatan teknologi pertanian yang berkualitas.

Peningkatan produktivitas merupakan tantangan terkini dalam budidaya kelapa sawit yang dilatarbelakangi oleh terus meningkatnya biaya produksi, harga sawit yang berfluktuasi, dan pengembangan kelapa sawit yang terus mengarah ke lahan marjinal.

Upaya percepatan masa pertumbuhan tanaman dilakukan melalui peningkatan kualitas bibit kelapa sawit yang didukung dengan penerapan kultur teknis terkini sesuai standar. Peningkatan produksi kelapa sawit diupayakan melalui pengaturan kerapatan tanaman secara berjenjang dan peremajaan tanaman dengan teknik underplanting. Tindakan untuk mengatasi faktor-faktor pembatas pada lahan marjinal di antaranya diupayakan melalui penerapan berbagai teknik terkini tentang konservasi tanah, GIS (geographical information system), pengelolaan air bebas aliran per_mukaan, pengelolaan hara tanah secara berimbang, aplikasi bahan pembenah tanah, perakitan teknologi budidaya kelapa sawit berdasarkan aspek biologi yang ramah lingkungan.
.

Peningkatan produksi kelapa sawit sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain perbaikan lahan, sistem pemupukan dan perawatan tanaman selama pertumbuhannya. Sifat lahan perkebunan kelapa sawit selama ini selalu menggunakan pupuk kimia dan pestisida sehingga lahan yang awalnya bersifat alami menjadi tercemar dan dalam jangka panjang lahan terasebut akan rusak dan tidak layak untuk pertanian. Itulah Sebabnya, pengolahan lahan harus ditangani dengan teknologi yang berkualitas, ramah lingkungan dan berkesinambungan.

  • Menyadari keadaan di atas, maka PT UTOMO DECK menawarkan teknologi yang berbasis biologis yaitu pemupukan dengan teknologi mikroorganisme dengan merk : BIOTAMA. BIOTAMA membantu : Menggemburkan dan menyehatkan tanah.
  • Meningkatkan aktivitas mikroorganisme yang positif di dalam tanah.
  • Menyehatkan benih dan bibit tanaman. Daun, bunga & buah tidak mudah rontok.
  • Menekan hama & penyakit tanaman.
  • Mempercepat pertumbuhan tanaman, membuat daun lebih tebal & kuat, batang tanaman lebih kuat.
  • Meningkatkan produksi, rasa, warna dan kualitas hasil panen.
  • Menghasilkan produk yang sehat dan bebas bahan kimia

BIOTAMA 1 mengaktifkan kembali mikroorganisme di dalam tanah, air dan udara sehingga bisa menangkap berbagai unsur hara dan digunakan untuk membantu pertumbuhan tanaman. BIOTAMA 1 mengandung mikroorganisme jenis penicillium dan streptomyces yang berfungsi sebagai anti toksin sehingga bisa menyehatkan tanaman. Bakteri fotosintetik yang ada di dalam BIOTAMA 1 meningkatkan energi, jadi bila disemprotkan pada tanaman akan memacu pertumbuhan tanaman, bila disiramkan pada tanah akan memperbaiki produktivitas tanah. Dan bila digunakan untuk merendam benih maka benih menjadi lebih sehat dan mudah tumbuh.

Bakteri-bakteri yang terkandung dalam BIOTAMA merupakan bakteri alamiah (asli Indonesia) yang dikultur secara fermentasi dengan sistem pengkayaan nutrisi. Bakteri tersebut adalah Rhizobium, Azotobacter, Actinomycetes, Lactobacillus, Streptomyces, Rhodomyces dan Bakteri Fotosintat dan berbagi jenis lainnya yang terdiri dari 79 strain dalam jumlah sekitar 107. per cc BIOTAMA tersebut.

BIOTAMA telah dites di Lab. Mikrobiologi, Universitas Brawijaya Malang dengan nomer 28/MIKRI-BIO/F-MIPA/06/2005 dan telah mendapat ijin dari Departemen Perindustrian untuk diproduksi skala industri dengan nomer : 533/172/435.4.12/2005. Pada tanggal 25 Juni 2006 BIOTAMA telah mendapatkan pengakuan dari IFOAM (International Federation of Organic Agriculture Movement). Hal tersebut mengartikan bahwa BIOTAMA telah memenuhi syarat sebagai pupuk organik sesuai dengan komposisinya (nutrisi dan kandungan mikrob) yang telah layak untuk dipasarkan dan diuji coba dengan hasil yang memuaskan. BIOTAMA juga melakukan tes / uji terhadap produk secara kontinyu untuk menjaga kualitas produk sehingga tidak merugikan konsumen.

  • BIOTAMA digunakan oleh petani sawit karena Menggemburkan dan menyehatkan tanah.
  • Meningkatkan aktivitas mikroorganisme yang positif di dalam tanah.
  • Menyehatkan benih dan bibit tanaman. Daun, bunga & buah tidak mudah rontok.
  • Menekan hama & penyakit tanaman.
  • Mempercepat pertumbuhan tanaman, membuat daun lebih tebal & kuat, batang tanaman lebih kuat.
  • Meningkatkan produksi, rasa, warna dan kualitas hasil panen.
  • Menghasilkan produk yang sehat dan bebas bahan kimia.

BIOTAMA, sebagai sumber inokulan mikroorganisme mengandung : Bakteri Penambat Nitrogen Bebas, seperti Rhizobium sp., Bradyrhizobium sp. dan Azobacter sp.dll.

Bakteri-bakteri tersebut sudah lazim digunakan sebagai inokulan yang penting dalam pertanian terpadu (mixfarming), sistem tumpang sari (multiple cropping system) dan tanaman penutup (over crops) sebagai pupuk hayati. Pupuk hayati mempunyai kelebihan, yaitu ramah lingkungan karena tidak meninggalkan residu yang tidak terurai (rekalsitran) dan lebih murah karena dapat diproduksi secara lokal. Baik bentuk asosiasi maupun bentuk bebasnya, bakteri-bakteri tersebut tetap mempunyai kemampuan untuk mengikat (memfiksasi) Nitrogen bebas, sehingga tanaman tidak hanya tergantung pada kandungan Nitrogen tanah yang biasanya berasal dari pupuk kimia.

Tanaman penyerap Nitrogen dalam bentuk nitrat (NO3) atau ammonia (NH3). Sehingga ammonia yang dihasilkan dari bakteri penambat N dapat langsung digunakan oleh tanaman. Selain dapat menyediakan N untuk tanaman, bakteri penambat N juga mampu untuk menghasilkan zat pengatur tumbuh (ZPT) bagi tanaman. Seperti senyawa Indol (IAA) yang dapat memacu pertumbuhan dan perkembangan akar dan memacu pembentukan rambut akar sehingga daya serap akar terhadap nutrisi akan mengikat, dan Giberelin yang dapat mempercepat pertumbuhan tanaman, khususnya perpanjangan batang.
Nitrogen merupakan nutrisi yang paling penting bagi warna hijau daun (klorofil). Apabila sebuah tanaman menderita kekurangan (defisiensi) N akan menyebabkan daun mengalami klorosis (daun tidak hijau), sehingga menurunkan laju fotosintesis yang akan memberikan dampak menurunnya fotosintat yang akhirnya akan menurunkan produktivitas suatu tanaman. Institut Riset Padi Internasional (IRRI) telah melakukan penelitian bahwa bakteri penambat Nitrogen yang hidup bebas dapat memfiksasi N2 hingga 50-60%. Sehingga kita dapat menghemat biaya dengan mengurangi pemberian pupuk N konvensional.

Menurut Hakim dkk. (1986) definisi proses mineralisasi adalah proses perubahan senyawa organik menjadi unsur anorganik. Misalnya, perubahan nitrogen organik menjadi nitrogen anorganik dan dapat digunakan tanaman. Mineralisasi adalah pelapukan bahan organik yang melibatkan kerja enzim-enzim yang menghidrolisa komplek protein.

Mineralisasi nitrogen organik sebenarnya adalah proses amonifikasi dan nitrifikasi. Amonium adalah senyawa nitrogen anorganik yang paling tereduksi dan merupakan substrat awal bagi proses nitrifikasi. Definisi nitrifikasi adalah proses pembentukan nitrat atau nitrit secara hayati dari senyawa-senyawa yang mengandung nitrogen tereduksi. Proses nitrifikasi dan amonifikasi adalah proses mineralisasi. Nitrifikasi terdiri dari dua tahap yaitu oksidasi amonium menjadi nitrit disusul dengan oksidasi nitrit menjadi nitrat oleh dua jenis bakteri yakni : Nitrosomonas yang mengoksidasi amonium menjadi nitrit, dan Nitrobacter yang mengoksidasi nitrit menjadi nitrat (Imas dkk., 1989; Sutedjo dkk., 1996)

Bakteri pelarut Fosfat (PSB)Ketersediaan P di tanah ada dalam dua bentuk, yaitu fosfat organik (asam nukleat) dan fosfat anorganik (berikatan dengan logam seperti A1, Ca, Fe). Fosfat dalam tanah dapat dilarutkan dengan sistem perakaran dan mikroorganisme. Namun kedua sistem tersebut bekerja tergantung pada pH tanah. Pada keadaan tanah netral sampai mendekati basa, tanah banyak mengandung kalsium sehingga terjadi pengendapan kalsium fosfat (CaPO4) dan fosfatnya terlepaskan. Proses ini disebut sebagai pelarutan oleh perakaran dan mikroorganisme. Pada keadaan tanah asam, tanah miskin kandungan kalsiumnya, sehingga fosfat lebih potensial berikatan dengan Fe maupun A1 yang bersifat sukar larut, sehingga dapat mengakibatkan tanaman mengalami kekurangan fosfat. Oleh karena itu, pada tanah asam kita dapat mesiasatinya dengan cara menginokulasikan biji / tanah dengan mikroorganisme pelarut fosfat dan pupuk ber-fosfat.

Unsur P sangat diperlukan oleh tanaman untuk proses pembelahan sel, pembungaan, pembuahan dan perkembangan akar lateral (akar cabang) yang berperan penting dalam penyerapan hara mineral. Bakteri pelarut fosfat juga mampu menghasilkan asam organik seperti asam propionat, asetat, fumarat, suksinat, format dan asam glikolat yang dapat dimanfaatkan oleh perakaran maupun memacu pertumbuhan bakteri lain yang bersifat sinergis.

Actinomycetes

Actinomycetes oleh para peneliti mkrobiologi dikelompokan ke dalam bakteri. Bakteri ini memiliki kemampuan yang penting bagi kelangsungan proses-proses fisika, kimia dan biologi tanah. Actinomycetes biasanya hidup didalam tanah dan berperan penting dalam proses pelapukan/ perombakan bahan organik kompleks menjadi bahan organik yang lebih sederhana dan dapat langsung digunakan oleh organisme lain. Keistimewaan bakteri ini adalah memiliki kecenderungan untuk berasosiasi dengan suatu lapisan permukaan padat.

Actinomycetes adalah bakteri yang tidak tahan asam, memiliki filament diawal pertumbuhannya. Actinomycetes dapat bersifat anaerob fakulatif (mampu tumbuh baik jika terdapat O2 bebas atau tidak ada O2) dapat mampu memfermentasikan karbohidrat. Actinomycetes mempunyai 3 fungsi:
1.Mendekomposisi bahan organik
2. Menghasilkan antibiotik yang dapat menghambat bahkan mematikan mikroba lainnya, khususnya yang patogen
3. Mengikat struktur tanah liat sehingga dapat memperbaiki sifat fisik tanah
4. Dapat menghilangkan bau, dengan zat-zat metabolik yang dikeluarkannya.
Lactobacillus

Lactobacillus tergolong kedalam famili Lactobacillaceae, bakteri berbentuk batang dan Gram Positif, tidak berspora, anaerob fakultatif, bakteri ini berperan dalam penyediaan nutrisi, asam-asam lemak (asam laktat, asam asetat) dan dapat mensintesis vitamin (vit B)
Lactobacillus dapat bersifat:
1. Homofermentatif, yaitu dapat memecah gula menjadi asam laktat dan menghasilkan antibiotik.
2. Heterofermetatif yaitu mampu memecah gula menjadi asam laktat dan produk-produk sampingan seperti asam asetat dan CO2 (karbondioksida)
Streptomyces, Actinomycetes dalam BIOTAMA membentuk zat-zat yang anti bakteri, juga menghasilkan zat-zat bioaktif seperti hormon dan enzim yang dapat meningkatkan jumlah sel aktif dan perkembangan akar. Sekresi ragi merupakan substrat yang baik untuk mikroorganisme efektif seperti bakteri asam laktat dan Actinomycetes. Streptomyces, fungi dan bakteri asam laktat adalah merupakan mikroorganisme fermentatif yang dapat mendegradasi bahan-bahan organik (Prihandarini, 2000; Schlegel, 1994).
Actinomycetes, yang strukturnya merupakan bentuk antara dari jamur dan bakteri, menghasilkan zat-zat anti mikroba dan asam amino yang dikeluarkan oleh bakteri fotosintetik dan bahan organik. Actinomycetes dapat hidup bersama dengan bakteri fotosintetik (Prihandarini, 2000)

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.
Dipublikasi di Uncategorized | 2 Komentar